Sejak manusia memiliki kemampuan untuk berpikir, ada pertanyaan-pertanyaan paling mendasar yang terus dicari jawabannya: Dari mana segala sesuatu berasal? Mengapa alam semesta ada? Apa sebenarnya materi dan energi? Bagaimana kehidupan muncul? Siapa yang menyadari dan berpikir? Apa hakikat manusia? Dan apa sumber terakhir dari seluruh keberadaan?
Semua pertanyaan tersebut pada dasarnya mengarah kepada satu pertanyaan terbesar:
"Apa asal dari segala sesuatu yang ada?"
Manusia pertama-tama memahami dunia sebagai kumpulan benda: tanah, air, batu, tumbuhan, hewan, dan manusia. Namun semakin dalam ilmu pengetahuan berkembang, semakin terlihat bahwa benda bukanlah dasar terakhir. Benda tersusun dari molekul, molekul tersusun dari atom, atom tersusun dari partikel, dan partikel mengikuti hukum-hukum dasar alam yang mengatur seluruh keberadaan.
Alam semesta bukan sekadar kumpulan benda yang bergerak tanpa aturan. Ada keteraturan yang sangat mendalam: hukum fisika, hubungan energi dan materi, serta struktur yang memungkinkan alam berkembang menjadi bentuk yang kompleks. Materi dan energi saling berhubungan; cahaya yang kita lihat adalah bagian dari fenomena alam yang membawa energi; dan seluruh benda yang ada tersusun dari unsur-unsur yang berasal dari proses kosmik yang sangat panjang.
Cahaya menunjukkan bahwa realitas pada tingkat paling kecil tidak selalu seperti pengalaman manusia sehari-hari. Dalam percobaan celah ganda, cahaya dapat menunjukkan sifat gelombang dan partikel. Ketika dilakukan pengukuran, hasilnya berubah karena terjadi interaksi fisik antara cahaya dan alat pengukur.
Dari materi yang mengikuti hukum alam, terbentuklah struktur yang semakin kompleks. Partikel membentuk atom, atom membentuk molekul, molekul membentuk benda, dan melalui proses yang sangat panjang muncul kehidupan. Kehidupan kemudian berkembang hingga memiliki sistem saraf yang mampu menerima informasi, menyimpan pengalaman, dan menghasilkan kemampuan berpikir.
Manusia adalah salah satu bentuk paling kompleks dari proses alam tersebut. Tubuh manusia tersusun dari unsur-unsur yang berasal dari alam semesta. Karbon dalam tubuh, oksigen yang kita hirup, dan berbagai unsur lainnya memiliki sejarah panjang dalam pembentukan bintang dan planet. Dalam arti tertentu, manusia adalah bagian dari alam semesta yang telah mencapai tingkat kompleksitas sehingga mampu mengenali dan memahami keberadaannya sendiri.
Kesadaran manusia memungkinkan munculnya pengalaman tentang dunia. Mata menangkap cahaya, telinga menerima getaran, otak mengolah informasi, lalu muncul pengalaman tentang warna, suara, pikiran, dan perasaan. Manusia tidak hanya ada, tetapi mampu bertanya tentang keberadaannya sendiri.
Namun ketika pertanyaan dilanjutkan lebih jauh, muncul pertanyaan tentang sumber terakhir dari semuanya. Materi berubah, energi berpindah, kehidupan muncul dan berkembang. Semua yang ada di alam semesta memiliki ketergantungan dan keterbatasan. Maka muncul pertanyaan: apakah ada sesuatu yang menjadi dasar dari seluruh keberadaan, sesuatu yang tidak bergantung kepada hal lain?
Jawaban dari pertanyaan fundamental tersebut adalah:
Allah.
Allah adalah sumber dan pencipta segala sesuatu. Allah bukan bagian dari alam semesta, bukan materi, bukan energi, dan bukan makhluk. Allah adalah Al-Khāliq, Sang Pencipta seluruh keberadaan. Alam semesta dengan segala isinya adalah ciptaan-Nya.
Allah adalah Al-Awwal, Yang Maha Awal, yang tidak didahului oleh sesuatu. Allah adalah sumber dari keberadaan, sementara segala sesuatu selain Allah adalah ciptaan yang bergantung kepada-Nya.
Manusia diberi akal dan kesadaran agar mampu mengenal, berpikir, dan memahami tanda-tanda keberadaan. Alam semesta bukan Tuhan, tetapi merupakan tanda kebesaran dan keteraturan ciptaan Allah. Ilmu pengetahuan membantu manusia memahami bagaimana ciptaan itu bekerja, sedangkan iman memberikan pemahaman tentang sumber dan tujuan dari keberadaan.
Maka, Jawaban dari segala sesuatu adalah bahwa seluruh keberadaan memiliki satu sumber utama: Allah. Alam semesta, materi, energi, cahaya, kehidupan, manusia, dan kesadaran bukanlah sesuatu yang berdiri sendiri, melainkan bagian dari ciptaan Allah.
Dalam kalimat tauhid yang menjadi inti keyakinan Islam:
لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ
Tidak ada Tuhan selain Allah.